Rabu, 10 Februari 2016

Definisi dan Model Etika Lingkungan

  Etika menurut arti katanya adalah ilmu tentang akhlak dan tata kesopanan, [1] sementara lingkungan menurut arti katanya adalah kawasan... thumbnail 1 summary
Etika menurut arti katanya adalah ilmu tentang akhlak dan tata kesopanan,[1] sementara lingkungan menurut arti katanya adalah kawasan wilayah dan segala sesuatu yang terdapat di dalamnya, golongan, dan kalangan.[2] Maka dari itu etika lingkungan menurut arti katanya bisa disebut sebagai tata kesopanan dalam berperilaku terhadap segala hal yang terdapat dalam suatu kawasan. 
Sementara itu etika lingkungan menurut pandangan lingkungan hidup diungkapkan oleh Sonny Keraf sebagai “Relasi di antara semua kehidupan alam semesta, yaitu antara manusia dengan manusia yang mempunyai dampak pada alam dan antara manusia dengan makhluk hidup lain atau dengan alam secara keseluruhan. Termasuk di dalamnya, berbagai kebijakan politik dan ekonomi yang mempunyai dampak langsung atau tidak langsung terhadap alam.”[3]

Pandangan yang saat ini mendominasi bagaimana cara manusia berinteraksi dengan lingkungan adalah pandangan antroposentrisme. Pandangan ini menerapkan nilai dan moral yang ada pada kehidupan manusia kedalam interaksi terhadap makhluk hidup lainnya, padahal nilai dan moral tersebut sangat kental dengan kepentingan dari manusia itu sendiri. Sehingga yang kita lakukan selama ini belum mampu mengakomodir kepentingan dari lingkungan dan makhluk hidup lainnya.

Akibat penggunaan etika yang sepihak oleh manusia ini menyebabkan pandangan manusia terhadap lingkungan juga sepihak dari sisi kepentingan manusia belaka. Sehingga manusia menganggap lingkungan sebagai obyek pemenuh kebutuhan manusia saja. Akhirnya saat ini lingkungan hidup mengalami kerusakan yang terus menerus meningkat sebagai akibat dari aktivitas pemenuhan kebutuhan manusia. Kesalahan manusia bersikap terhadap lingkungan ini juga diungkapkan oleh Albert Schweitzer dalam Sonny Keraf yang menyatakan bahwa, “Kesalahan terbesar semua etika sejauh ini adalah etika-etika tersebut hanya berbicara mengenai hubungan antara manusia dengan manusia.”[4]

Dengan melihat perkembangan manusia yang dinamis dan diikuti dengan perkembangan ilmu pengetahuan maka teori etika lingkungan hidup juga mengalami perkembangan. Perkembangan teori etika lingkungan hidup ini paling tidak berkembang menjadi tiga model, yaitu: 

  1. Antroposentrisme
Pandangan ini melihat manusia sebagai pusat dari sistem alam semesta. Manusia dan kepentingannya dianggap yang paling menentukan dalam tatanan ekosistem dan dalam kebijakan yang diambil dalam kaitan dengan alam, baik secara langsung atau tidak langsung. Nilai tertinggi adalah manusia dan kepentingannya. Hanya manusia yang mempunyai nilai dan mendapat perhatian. Segala sesuatu yang lain di alam semesta ini hanya akan mendapat nilai dan perhatian sejauh menunjang dan demi kepentingan manusia. Oleh karena itu, alam pun dilihat hanya sebagai obyek, alat dan sarana bagi pemenuhan kebutuhan dan kepentingan manusia. Alam hanya alat bagi pencapaian tujuan manusia. Alam tidak mempunyai nilai pada dirinya sendiri.[5]

Dengan pandangan ini manusia menganggap mampu memanfaatkan alam semaksimal mungkin demi kelangsungan hidup manusia. Saat usaha mereka itu justru menyebabkan kerusakan lingkungan, manusia masih berusaha sebagai ‘tuhan’ yang mampu mengubah-ubah kondisi lingkungan agar sesuai dengan standar hidup manusia dengan memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Usaha pelestarian lingkungan itupun juga dilakukan jika hanya pelestarian itu bermanfaat bagi kepentingan manusia lainnya. Jika ternyata alam itu tidak memberi manfaat bagi manusia lainnya, maka alam itu akan diabaikan dan tidak di pedulikan.

  1. Biosentrisme
Pandangan mendasar biosentrisme menganggap semua makhluk hidup di bumi ini mempunyai nilai dan moral sendiri. Hubungan antar komunitas makhluk hidup ini harus dijalankan berdasar pemahaman yang sama tentang nilai dan moral oleh semua makhluk hidup. Tidak seperti dalam pandangan antroposentrisme yang menganggap manusia sebagai pemilik tunggal nilai dan moral. Biosentrisme berpendapat bahwa semua makhluk hidup yang ada di bumi ini mempunyai nilai dan moralnya sendiri. 

Biosentrisme menekankan pada cara berhubungan antar komunitas makhluk hidup, jadi pusat perhatian pandangan ini pada semua makhluk yang hidup baik manusia maupun nonmanusia secara komunitas, bukan sebagai individu. Biosentrisme sendiri menurut Paul Taylor dalam Sonny Keraf didasarkan pada empat keyakinan yaitu:[6]

  1. Pertama, keyakinan bahwa manusia adalah anggota dari komunitas kehidupan di bumi, dalam arti yang sama dan dalam kerangka yang sama di mana makhluk hidup yang lain juga anggota dari komunitas yang sama.
  2. Kedua, keyakinan bahwa spesises manusia, bersama dengan semua spesies lain, adalah bagian dari sistem yang saling teergantung sedemikian rupa sehingga kelangsungan hidup dari makhluk hidup mana pun, serta peluangnya untuk berkembang biak atau sebaliknya, tidak ditentukan oleh kondisi fisik lingkungan melainkan oleh relasinya satu sama lain.
  3. Ketiga, keyakinan bahwa semua organisme adalah pusat kehidupan yang mempunyai tujuan sendiri sesuai dengan caranya sendiri.
  4. Keempat, keyakinan bahwa manusia pada dirinya sendiri tidak lebih unggul dari makhluk hidup lain.
  1. Ekosentrisme
Ekosentrisme merupakan pengembangan lanjut dari teori biosentrisme, maka dari itu sering biosentrisme dan ekosentrisme disamakan. Padahal kedua pandangan ini berbeda. Perbedaan keduanya ditunjukkan pada fokus perhatiannya, pada biosentrisme fokus perhatiannya pada hubungan antar komunitas makhluk hidup, sementara ekosentrisme melihat hubungan ini pada hubungan semua makhluk hidup dan tak hidup, baik secara individu maupun secara komunitas.

Ekosentrisme juga dikenal dengan istilah lain yang dipopulerkan oleh Arne Naess dalam Sonny Keraf sebagai Deep Ecology.[7] Teori ini menekankan perhatiannya pada semua spesies termasuk spesies bukan manusia. Selain itu teori ini juga memberi perhatiannya pada kepentingan jangka panjang bukan jangka pendek, sehingga teori ini berusaha melakukan perubahan melalui sebuah gerakan konkrit dan nyata sebagai usaha memperbaiki hubungan antar manusia maupun non manusia, baik biotik maupun abiotik.[8]

Pandangan ekosentrisme ini jauh berbeda dengan teori antroposentrisme yang sempit dan dangkal. Pandangan ekosentrisme melihat manusia sebagaisalah satu spesies yang hidup di bumi dan sangat bergantung kepada alam. Alam sendiri sudah menunjukkan bahwa ia dapat bertahan selama jutaan tahun tanpa adanya campur tangan manusia. Sehingga pandangan ini menolak anggapan yang menyatakan bahwa manusia adalah makhluk yang paling berkuasa. Maka dari itu Otto Soemarwoto dalam bukunya yang berjudul “Ekologi, Lingkungan Hidup dan Pembangunan”, menyarankan kita untuk lebih merendahkan diri, karena sebenarnya kelangsungan hidup manusia bukan di tangan kita, sehingga kehidupan kita sebenarnya amat rentan. [9]

Bentuk kerendahan diri manusia terhadap alam ini sebenarnya juga ada di Indonesia yang sudah cukup dikenal dalam filsafat hidup orang Minangkabau. Menurut pandangan ini manusia dianggap sebagai murid-murid dari alam dan alam sebagai gurunya, atau lingkungan mereka, dan karenanya manusia harus mampu menyesuaikan diri dengan alam dan lingkungannya, serta semua makhluk yang ada sebagai akibat dari perubahan kehidupan yang terjadi secara terus menerus.[10]


[1] Kamisa. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. 1997. Surabaya: Kartika., hlm. 164.
[2] Ibid., hlm. 342.
[3] Sonny Keraf, 2010, Etika Lingkungan Hidup. Jakarta: Kompas, hlm. 41-42
[4] Ibid., hlm. 41.
[5] Ibid., hlm. 47.
[6] Ibid.,  hlm. 69.
[7] Ibid., hlm. 93.
[8] Lihat Sonny Keraf, ibid., hlm 93-94.
[9] Lihat Otto Soemarwoto 2008. Ekologi, Lingkungan Hidup dan Pembangunan. Jakarta: Djambatan., hlm. 51.
[10] Lihat Zoer’aini Djamal Irwan. 2012. Prinsip-Prinsip Ekologi, Ekosistem, Lingkungan dan Pelestariannya. Jakarta: Bumi Aksara., hlm 4.

Tidak ada komentar

Posting Komentar