Minggu, 31 Januari 2016

Kebijakan Jaringan Dalam Pembangunan Jalan Tol Semarang-Batang

ilustrasi pembangunan jalan tol Semarang-Solo tahap 1 Proyek pembangunan jalan tol Semarang-Batang sedang mengalami kendala yang membua... thumbnail 1 summary
ilustrasi pembangunan jalan tol Semarang-Solo tahap 1
Proyek pembangunan jalan tol Semarang-Batang sedang mengalami kendala yang membuat pembangunan jalan tol ini kembali terhambat. Untuk melihat masalah ini, kenapa pembangunan jalan tol tersebut menjadi terhambat dapat menggunakan pendekatan jaringan. Dalam pendekatan jaringan terdapat beberapa model jaringan yang dapat kita gunakan untuk mengidentifikasi pada jenis jaringan apa proyek ini dilaksanakan, setelah kita mengetahuinya maka dapat dilakukan perbaikan agar proyek pembangunan jalan tol ini menggunakan model jaringan yang tepat. Model-model jaringan tersebut adalah:
1.Policy community
2.Professional Network
3.Intergovernmental Network
4.Producer Network
5.Issue network
Sebelum kita menentukan pada model jaringan apa proyek ini berada, maka kita perlu mengetahui dahulu masalah yang ada pada jalan tol ini. Masalah yang muncul adalah perbedaan kekuatan antara pemerintah, investor, dan masyarakat. Lalu juga perbedaan pandangan antara pemerintah, investor, dan masyarakat dalam pembangunan jalan tol ini. Jika melihat masalah-masalah itu (baca juga: masalah jalan tol Semarang-Batang), maka masalah-masalah ini sesuai dengan karakteristik dari model jaringan yang kelima yaitu issue network. Jika yang menyebabkan terhambatnya pembangunan jalan tol ini karena model jaringan issue network, lalu solusinya adalah dengan mencari alternatif lain yang akan dijelaskan disini.
Dalam issue network, yang terjadi adalah besarnya peserta dalam jaringan, dalam hal ini jumlah masyarakat yang terlibat cukup besar. Kemudian perbedaan nilai, pada kasus ini maka perbedaan pandangan tentang pembangunan jalan tol antara pemerintah, investor, dan masyarakat. Selanjutnya adalah berdasarkan pada konsultasi, bukan pertukaran sumber daya. Kasus jalan tol ini yang terjadi adalah pemerintah ingin mengambil sumber daya (tanah) yang sebelumnya dimiliki oleh masyarakat dengan harga ganti rugi yang murah. Sehingga masyarakat tidak mendapat manfaat dari sumber daya (tanah) yang sebelumnya mereka miliki. Yang terakhir adalah kekuatan yang tidak sama, dalam kasus ini terlihat jelas mana yang kuat dan mana yang lemah. Aktor yang kuat dalam proyek ini adalah pemerintah dan investor, sementara masyarakat menjadi aktor yang lemah. Kondisi ini menyebabkan ketimpangan dalam proses manajemen jaringan, dan tidak heran jika pembangunan proyek jalan tol ini pada akhirnya terhambat. Karena pada model ini pandangan dari aktor yang lemah tidak diperhitungkan dengan baik, dan cenderung diabaikan oleh aktor yang lebih kuat maupun oleh manajer jaringan yang ada.
Model jaringan ini dapat terjadi karena lemahnya integrasi sosial namun regulasi sosialnya sangat kuat (adanya UU No. 2 tahun 2012). Seperti dapat terlihat dalam matriks berikut,

Tidak ada komentar

Posting Komentar