Minggu, 31 Januari 2016

Integrasi Sistem Transportasi Umum Massal Kabupaten Kendal dan Kota Semarang

Kabupaten Kendal sebagai Kota Satelit dari Kota Semarang telah membuat hubungan kedua daerah ini saling membutuhkan dan saling melengkapi... thumbnail 1 summary
Kabupaten Kendal sebagai Kota Satelit dari Kota Semarang telah membuat hubungan kedua daerah ini saling membutuhkan dan saling melengkapi. Kota Semarang sebagai pusat perekonomian, perdagangan dan industri, memberi harapan bagi masyarakat di Kabupaten Kendal untuk mengadu nasib di Kota Semarang. Dengan berkembangnya perekonomian di Kota Semarang maka akan ikut meningkatkan perekonomian daerah-daerah yang berbatasan langsung dengan Kota Semarang, seperti yang terjadi di Kecamatan Boja Kabupaten Kendal yang ikut merasakan manfaat dari meningkatnya perekonomian di Kota Semarang. (baca juga: Selayang Pandang Kecamatan Boja)
Meningkatnya kegiatan ekonomi di pinggiran Kota Semarang seperti di daerah Ngaliyan dan Mijen, telah membuat perekonomian masyarakat di Kecamatan Boja ikut meningkat. Tumbuhnya pusat perekonomian baru di pinggiran Kota Semarang ini membuat akses kebutuhan masyarakat semakin mudah dan banyak memunculkan peluang bisnis baru di sepanjang jalan raya Semarang-Boja dan di wilayah Boja itu sendiri. Sebagai salah satu pusat perekonomian di Kabupaten Kendal, peningkatan aktifitas perekonomian di Kecamatan Boja akan mendorong peningkatan kegiatan ekonomi masyarakat dari daerah lain yang ada di sekitarnya.
Sehubungan dengan itu, tumbuhnya perekonomian di pinggiran Kota Semarang telah membuat jumlah penduduk meningkat dan terjadi migrasi penduduk untuk mencari tempat tinggal yang lebih nyaman di pinggiran Kota Semarang. Pertambahan penduduk ini dapat kita lihat dengan semakin banyaknya perumahan-perumahan baru di Mijen, Cangkiran, dan Jatisari. Pertumbuhan perumahan di pinggiran Kota Semarang ini membuat perumahan di pinggiran Kabupaten Kendal juga ikut tumbuh. Hal itu untuk merespon kebutuhan masyarakat perkotaan yang kini mulai mencari tempat tinggal di pinggiran kota yang nyaman, asri, dan jauh dari hiruk-pikuk kota.
Sebenarnya, pertumbuhan ekonomi dan penduduk di wilayah pinggiran Kota Semarang dan Kabupaten Kendal ini mulai meningkat sejak jalan raya Jerakah-Mijen dilebarkan pada tahun 2004-2012 yang lalu. Dampak positif dari pelebaran jalan ini adalah meningkatnya perekonomian di kedua wilayah karena akses jalan yang lebih mudah dan lancar. Namun, sejalan dengan meningkatnya pertumbuhan ekonomi dan penduduk, kepadatan lalu lintas di wilayah ini juga meningkat. Hal itu dapat kita lihat saat jam berangkat dan pulang kerja dimana jalan raya Semarang-Boja padat oleh kendaraan pribadi khususnya kendaraan roda dua. 
Melihat kondisi tersebut, maka dirasa perlu dibangun sistem transportasi umum massal yang menghubungkan Kota Semarang dan Kabupaten Kendal. Meskipun saat ini Kota Semarang telah memiliki transportasi massal Bus Rapid Transit (BRT) yang menjangkau pinggiran Kota Semarang namun, keberadaan BRT ini belum mampu menarik masyarakat di pinggiran Kota Semarang dan Kabupaten Kendal untuk menggunakannya. Hal itu karena beberapa trayek yang dilalui dirasa kurang menarik dan sesuai kebutuhan masyarakat. Sebagai contoh: Jalur trayek BRT Koridor IV dimulai dari Terminal Cangkiran sampai Bandara Ahmad Yani. Sedangkan kebutuhan warga adalah angkutan yang mampu membawa mereka ke pusat kota dan pusat industri.
Maka dari itu, untuk mengurangi kepadatan lalu lintas dan kemacetan yang terjadi di Kota Semarang dan di sepanjang jalan menuju dan/atau dari Kota Semarang, perlu dibangun sistem transportasi umum massal yang terintegrasi dengan daerah sekitarnya. Tak bisa dipungkiri bahwa salah satu sumber kepadatan Kota Semarang adalah pergerakan penduduk dari kabupaten disekitar Kota Semarang dan dari pinggiran Kota Semarang yang menuju pusat Kota Semarang. Namun, untuk membuat masyarakat mau menggunakan transportasi umum massal tidak bisa mengandalkan bus-bus umum yang sudah beroperasi saat ini karena bus-bus umum ini tidak mampu menarik minat masyarakat untuk menggunakannya. Hal itu karena: bus yang lama dalam menunggu penumpang (“ngetem”) di sepanjang jalan, keamanan, trayek yang terbatas sehingga harus berpindah bus, dan ketidak nyamanan dalam perjalanan.
Atas dasar itulah maka pengembangan BRT di Kota Semarang ini perlu dilakukan dan dikerjasamakan dengan daerah disekitarnya yang masuk dalam kelompok Kedungsepur: Kendal, Demak, Ungaran, Salatiga, Semarang, Purwodadi. Konsep kerjasama transportasi umum massal ini dapat meniru konsep integrasi APTB dan Trans Jakarta di DKI Jakarta. Dengan menggunakan konsep integrasi ini maka BRT Kota Semarang dapat memperluas jangkauannya, atau dengan pengadaan bus baru khusus perbatasan yang disediakan oleh masing-masing pemerintah daerah tetangga Semarang, termasuk oleh Kabupaten Kendal.
Karena masalah transportasi/perhubungan ini adalah salah satu urusan wajib pemerintah daerah maka sebaiknya dikerjasamakan antar sesama pemerintah daerah dengan menggunakan pola intergovernmental management. Pola ini diterapkan karena kerjasama dilakukan oleh Kota Semarang dan Kabupaten Kendal dalam satu bidang tertentu saja, yaitu transportasi/perhubungan. Nantinya bentuk kerjasama dalam sistem transportasi umum massal ini dapat berbentuk cooperative construction, joint purchasing, dan joint services. Cooperative construction nantinya adalah kerjasama dalam pembangunan infrastruktur transportasi massal yang dilakukan di daerah masing-masing, seperti: halte bus; rambu-rambu; maupun pelebaran jalan. Kemudian kerjasama dalam hal joint purchasing adalah kerjasama kedua pemerintah daerah dalam hal pembelian bus secara bersama-sama untuk mengatasi terbatasnya anggaran masing-masing pihak. Terakhir adalah kerjasama dalam bidang pelayanan publik atau joint services. Kerjasama ini bersifat lebih luas yang mencakup penyediaan layanan dan pelaksanaan layanan transportasi umum massal kepada masyarakat, seperti: Penentuan Standar Pelayanan Minimum; ticketing; dan layanan publik lain yang membuat masyarakat merasa nyaman dan terlayani dengan baik dalam bidang transportasi/perhubungan.
Akhirnya, diharapkan dengan kerjasama layanan transportasi umum massal maka masalah kepadatan lalu lintas di Kota Semarang dan Kabupaten Kendal dapat teratasi dengan baik dan menghasilkan transportasi umum massal yang aman, nyaman, cepat, dan dicintai masyarakat.

Tidak ada komentar

Posting Komentar