Minggu, 31 Januari 2016

INDONESIA DEFISIT DEMOKRASI...?

Mendekati pemilihan umum yang semakin dekat membuat banyak pihak menunggu dengan perasaan was-was. Perasaan was-was mereka disebabkan k... thumbnail 1 summary
Mendekati pemilihan umum yang semakin dekat membuat banyak pihak menunggu dengan perasaan was-was. Perasaan was-was mereka disebabkan kekhawatiran pemilu tahun ini angka golput akan semakin tinggi. Fenomena golput ini terus mengalami trend yang mengkhawatirkan, dituunjukkan dengan banyak pemilukada yang angka golputnya mencapai 40 persen lebih. Bahkan di beberapa daerah angka golput lebih tinggi dari pada angka partisipasinya.
Dapat dibayangkan jika pemilu tahun ini angka golput semakin tinggi, maka harapan untuk memperbaiki Indonesia menjadi lebih baik, justru mencerminkan kondisi masyarakat Indonesia yang semakin pesimis terhadap politik. Apalagi Indonesia menganut voluntary participation, sehingga pemerintah tidak bisa memaksa masyarakat untuk memilih atau tidak karena sifatnya yang sukarela.
 
Tapi hal yang sebenarnya sangat dikhawatirkan jika golput pada pemilu tahun ini semakin tinggi adalah legitimasi calon-calon yang terpilih. Maka dari itu dapat kita lihat saat ini KPU gencar sekali melakukan pendekatan-pendekatan kepada pemilih khususnya pemilih muda dan pemula, agar angka golput tidak semakin tinggi. Walaupun dari sisi teknis sebenarnya berapapun perolehan suara yang didapat seorang calon tidak mengurangi legitimasi calon tersebut. Namun legitimasi politik calon terpilih tersebut menjadi lemah, apalagi jika jumlah golput atau yang tidak memilih hampir atau lebih dari separuh jumlah peserta pemilu. Maka disitulah legitimasi politik calon terpilih tersebut menjadi rendah, sebab suara yang diperoleh tidak mewakili seluruh suara peserta pemilu.

Ketika calon yang terpilih memiliki legitimasi politik yang rendah, dan ternyata saat menjabat dia melakukan kejahatan-kejahatan seperti korupsi atau tidak melaksanakan janjinya saat kampanye. Maka kita masyarakat yang saat pemilu tidak memilih atau golput, sebenarnya jika dipikir secara logika kita tidak mempunyai hak untuk memprotes calon terpilih tersebut. Karena kita sudah diberikan peluang oleh pemerintah untuk menyalurkan hak memilih kita saat pemilu, namun tidak kita gunakan untuk memilih pemimpin yang baik. Sehingga jangan salahkan calon terpilih jika pada masa baktinya ternyata justru melakukan kejahatan. Sebab kita telah menyia-nyiakan kesempatan memperbaiki kehidupan kita saat pemilu dengan tidak memilih calon yang baik. Mungkin bisa saja sebenarnya ada calon yang lebih baik terpilih saat kita menggunakan hak pilih kita, tapi karena kita tidak menggunakannya, maka calon yang tidak baiklah yang terpilh dan itu menjadi konsekuensi kita sebagai pemilih yang tidak memilih.

Tapi yang terjadi saat ini adalah penyangkalan terjadi pada sebagian besar orang yang tidak memilih saat pemilu. Mereka menggunakan kenyataan yang terjadi bahwa tidak terjadi perubahan apapun setiap kali selesai pemilu, sehingga mereka melakukan pembenaran atas tindakan mereka dulu yang tidak memilih saat pemilu, atau golput saat pemilu. Itulah karakteristik manusia, selalu melakukan penyangkalan terhadap kenyataan yang terjadi dan melakukan pembenaran atas tindakannya karena kenyataan yang terjadi tidak sesuai harapan. Jadi selain faktor seringnya pemilu yang dirasakan oleh masyarakat, faktor karakteristik manusia yang selalu melakukan penyangkalan dan pembenaran atas tindakan merekalah angka golput bisa semakin tinggi.

Tidak salah memang jika sekarang ini terjadi kejenuhan pemilu di masyarakat kita, sebab yang terjadi saat ini adalah pemilu khususnya pemilukada terjadi pada waktu yang hampir berdekatan antar satu daerah dengan daerah lainnya. Masyarakat kita semakin lama semakin muak dengan banyaknya pemilu yang calon-calonnya menawarkan janji-janji manis, tapi tidak pernah menjadi kenyataan. Pemilu yang terjadi berulang kali membuat harapan masyarakat yang mulanya tinggi mengharapkan perubahan, kian lama kian pudar. Lalu seperti inilah yang terjadi pada masyarakat kita sekarang ini, rasa pesimis akan terjadinya perubahan melalui pemilu.

Kejenuhan masyarakat terhadap pemilu ini bisa disebut sebagai kejenuhan demokrasi yang terjadi di Indonesia. Kejenuhan demokrasi ini terjadi saat dimana sering terjadi pemilu namun terjadi defisit demokrasi. Defisit demokrasi itu sendiri terjadi ketika harapan masyarakat yang tinggi terhadap pemilu namun indikator-indikator ekonomi sosial dan budaya tidak tercapai setelah pemilu. Mudahnya adalah, defisit demokrasi terjadi karena seringnya diadakan pemilu namun harapan-harapan masyarakat tidak pernah tercapai setiap setelah selesai pemilu. Sehingga terjadilah kejenuhan demokrasi. 

Hal inilah yang saat ini melanda Indonesia, rasa jenuh yang dirasakan masyarakat terhadap pemilu yang tidak merubah hidup mereka. Akhirnya masyarakat memilih untuk tidak memilih pada pemilu-pemilu yang akan datang. Sebenarnya banyak faktor yang menyebabkan terjadinya golput, antara lain adalah masalah teknis, ideologi, dan politik. Golput sebenarnya tidak masalah jika yang terjadi adalah golput ideologi dan politik, sebab golput karena faktor ideologi dan politik menunjukkan tingkat pemahaman politik masyarakat yang baik. Namun yang banyak terjadi di Indonesia adalah golput teknis, tak perlu diragukan banyak masyarakat Indonesia yang bekerja merantau keluar dari daerahnya. Saat pemilu terjadi mereka tidak mungkin ijin pulang hanya untuk memilih satu hari, selain akan memakan biaya juga akan memakan tenaga mereka. sehingga cukup banyak mayarakat yang tidak memilih hanya karena sedang berada di perantauan. 

Fenomena ini sebenarnya sudah diantisipasi oleh KPU dengan memperbolehkan masyarakat memilih di bukan tempat asalnya. Hal itu dapat dilakukan dengan  mengurus surat kepindahan TPS di TPS daerah asal agar bisa memilih di TPS daerah masyarakat itu bekerja. Peluang untuk tetap memilih telah diberikan, namun banyak masyarakat yang masih belum tahu jika hal tersebut dapat dilakukan. Selain kekurang tahuan masyarakat tentang hal itu, faktor malasnya masyarakat mengurus surat kepindahan TPS juga menjadi sebab, mengapa sebagian masyarakat perantau tidak memilih saat pemilu. Kurangnya sosialisasi dari KPU membuat golput teknis mau tidak mau tetap ada sampai saat ini. 

Ada sebuah solusi golput yang menurut saya mungkin akan efektif, Indonesia sebagai negara dengan populasi muslim terbesar dan sebagian besar masyarakat Indonesia masih sangat menghormati dan mempraktekkan nilai-nilai spritiualitas. Maka ajakan untuk memilih dapat disandingkan dalam kegiatan-kegiatan agama, atau dicarikan dalil-dalil agama untuk memperkuat pentingnya memilih dalam pemilu. Sebagai contoh misalnya, dalam Alqur’an Allah SWT berfirman bahwa: 
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka ” QS 13:11.  
Dari ayat tersebut dapat kita tarik kesimpulan bahwa, jika masyarakat suatu kaum tidak melakukan apapun untuk berubah lebih baik, maka Allah tidak akan mengubahnya. Jika masyarakat Indonesia tidak berpartisipasi dalam pemilu itu artinya tidak berusaha mengubah nasib menjadi lebih baik, karena kita tidak berusaha merubah kondisi saat ini dengan memilih calon-calon yang berkualitas dalam pemilu. Sebab jika pemilu dihubungkan dengan ayat diatas maka, pemilu sekarang ini adalah alat masyarakat/kaum melakukan perubahan nasib untuk menjadi lebih baik.

Maka dari itu, sebagai warga negara Indonesia yang mengharapkan perubahan lebih baik di Indonesia, marilah kita gunakan hak pilih kita saat pemilu legislatif 9 April besok dan pemilu presiden setelah pemilu legislatif. Gunakan hak pilih kita untuk memilih wakil kita yang mampu memperjuangkan kepentingan masyarakat, kepentingan Indonesia yang lebih baik. Jika akhirnya tetap tidak akan memilih maka janganlah protes dan mengeluh saat calon yang terpilih ternyata tidak melakukan tugasnya dengan baik. Walaupun Indonesia menganut sistem sukarela, kita sebagai masyarakat sebaiknya tetap aktif dan sadar bahwa partisipasi kita dalam pemilu sangat berati. Kemana Indonesia akan dibawa menjadi tanggung jawab kita sebagai pemilik suara, maka mari kita gunakan hak pilih kita dengan bijak untuk Indonesia yang lebih baik.
YOUR VOTE... OUR FUTURE


Tidak ada komentar

Posting Komentar